Skip navigation

*lanjutan Semarang

Q: lho, mau kemana tho mas? A: Mau nyari makanan mas, dimana yg deket ya? Q:ketimur aja.

itu lah yg jawaban yg aku dapati mengenai arah di Semarang. Masyarakatnya masih kental dengan bahasa daerah, dan kompas. Ada hal yg luar biasa disini, selama di Semarang aku jarang mendapatkan keramahan, baik dari POLISI nya, pedagang makannya, orang dipasarnya, sampe di club danggdutnya.

Malam pertama kita keluar ber 4 mencari hiburan Semarang, tapi yg dapet malah razia polisi, susah nyari rokok Sampoerna A Mild, banyak jalan yg di portal, muter 8 kali di tempat yg sebenarnya sama, masuk club danggdut yg merk nya Flamboyan (tukang parkirnya The Best), trus ketemu sarang AKPOL sama rumah rumah gede segede kerajaan mojopahit, trus jalanan curam 80 derajat kemiringannya, trus tukang indomie yg berasal dari solo tp jualan di pasar dini Semarang (doi gak pernah di palak karena abg iparnya pereman setempat, canggih ni org).

Mau beli kopi luak dikasi kopi kapal api, padahal si ibunya udah nanya 3x dan sudah kita pastikan tapi kitanya dapet merk yg aku tau jelas itu kopi kapal api taik, mending enak ini anyep. Hadeeeeeeuh…

Mau beli oleh oleh aja kita sampe di stop polisi yg udh jelas belok kiri boleh jalan langsung, dan dia ngatain aku bangsat lebih dari 6x setelah dia sukses mendorong saya jatuh dari tangga. Tawarannya hanya mau bayar di bank BNI ato mau bayar disini, setelah kita mencoba damai kita cuman di bilangin pelit.

Akhirnya kita sukses bayar 300 ribu ke dia, baru di bebasin. Kita lanjut jalan nyari oleh oleh, bgitu mobil selesai parkir, mau keluar dari mobil tu polisi udah muncul aja lagi, padahal jarak dari pos polisi depan KFC ke tempat oleh oleh lumayan jauh, tu polisi ngikutin dan ngembaliin uang sebesar 100 ribu, katanya utk aku aja, kasian. (Sementara sebelumnya dia bilang aku menghina pangkatnya, mau nikam dia dari belakang, dia punya anak istri, gak mau disuap macam lah klo udah gitu, eh…dia kembaliin lah cepek, 200ribu gak tau mau dia apain).

Selera musik sepertinya mereka masih tertinggal 3 priode dibelakang Jakarta, Medan, Bandung dan Bali. Seni mereka tinggi tapi tidak mengikuti trend. Supir angkotnya? ya namanya supir angkot dimana mana sama, tapi pengendara kendaraan lainnya juga ternyata sama di Semarang itu, gak mau ngalah dan gak mau salah.

Cukup dengan orang orang Semarang, trus cuaca di Semarang panasnya nauzubilah lebih parah dari Medan. Klo di tanya mau tinggal di Semarang, jawaban aku mutlak, “ENGGAK MAU, SUMPAH demi Discovery Channel”.

Struktur jalan di Semarang lebar lebar, Bersih dan naik turun seperti Bandung. Banyak bangunan bersejarah, dan bacak nya masih dayung tapi mereka benar benar orang yg kuat mengayuh, waktu lagi narik sewa, mukanya nyantai aja gitu padahal penumpangnya dua org gede gede.

Semarang oh Semarang.. I DON’T LIKE THIS CITY.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: